Apa itu Kiblat?
Definisi Kiblat
Secara etimologis, kata kiblat berasal dari bahasa Arab al-qiblah (القبلة) yang secara harfiah berarti “arah” (al-jihah). Dalam terminologi Islam, kiblat didefinisikan sebagai arah atau jarak terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati Ka’bah di Makkah menuju tempat seseorang berada. Kiblat adalah arah yang harus dihadapi oleh setiap Muslim ketika melaksanakan salat, karena menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya salat.
Kiblat tidak sekadar arah mata angin, melainkan mengarah kepada bangunan fisik Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Dalam praktiknya, dikenal dua cara menghadap kiblat: ‘ainul ka’bah (persis mengarah ke bangunan Ka’bah) yang dituntut jika memungkinkan, atau jihatul ka’bah (kira-kira mengarah ke Ka’bah) bagi yang jauh dari Makkah.
Sejarah Kiblat dalam Manuskrip dan Literatur Kuno
1. Ka’bah dalam Sumber-Sumber Kuno
Manuskrip-manuskrip kuno dan literatur klasik menyebutkan bahwa Ka’bah adalah bangunan ibadah tertua di muka bumi. Dalam Al-Qur’an, Ka’bah disebut sebagai al-Bayt al-‘Atiq (البيت العتيق) yang berarti “rumah yang kuno” (Surat Al-Hajj ayat 29).
Menurut riwayat yang tercatat dalam berbagai naskah klasik, Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam AS, kemudian fondasinya ditinggikan kembali oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya Nabi Ismail AS. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 127:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami)…'”
Dalam Dictionary of Islam disebutkan bahwa Ka’bah (Baitul Makmur) pertama kali dibangun dua ribu tahun sebelum penciptaan dunia.
2. Peralihan Kiblat dalam Manuskrip Sejarah
Manuskrip-manuskrip klasik dan kitab tafsir kuno mencatat sejarah penting peralihan arah kiblat. Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir (juz I, hal. 272), peristiwa ini dijelaskan sebagai berikut:
“Yang pertama kali di-naskh (dihapus hukumnya) dalam Al-Qur’an ialah kiblat. Bahwasanya Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, sementara penduduk Madinah mayoritas adalah Yahudi, Allah memerintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis (ketika salat)…”
Sejarah peralihan kiblat dalam literatur kuno dapat dirangkum sebagai berikut:
| Periode | Arah Kiblat | Sumber |
|---|---|---|
| Di Makkah | Menghadap Ka’bah | – |
| Awal hijrah ke Madinah (16-17 bulan) | Menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem) | Hadits riwayat Bukhari |
| Bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah (624 M) | Berpindah ke Ka’bah (Masjidil Haram) | Surat Al-Baqarah ayat 144 |
Allah mengabulkan keinginan Nabi Muhammad SAW dengan menurunkan wahyu Surat Al-Baqarah ayat 144:
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram…”
Peristiwa pemindahan kiblat ini terjadi ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan salat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).
3. Literatur Klasik tentang Penentuan Arah Kiblat
Para ulama dan ilmuwan Muslim sejak abad ke-9 M telah menaruh perhatian besar pada penentuan arah kiblat. Beberapa manuskrip dan literatur klasik yang membahas kiblat antara lain:
- Kitab Suwar Al-Kawakib (Kitab Bintang Tetap) – digunakan untuk menentukan arah kiblat berdasarkan data rasi bintang.
- Karya Sayyid Usman (w. 1331 H/1913 M) – menulis “Tahrīr Aqwā al-Adillah fī Tahshīl ‘Ain al-Qiblah” dalam dua bahasa (Melayu dan Arab), berisi bagan arah kiblat untuk berbagai tempat di Nusantara dari Aceh hingga Ternate. Karyanya yang lain, “Nafā’is an-Nihlah fī Wasā’il al-Qiblah”, membahas kewajiban menghadap kiblat, dalil-dalilnya, dan tata cara perhitungan dengan rubu’ mujayyab.
- Muhammad Manshur Betawi (w. 1388 H/1968 M) – menulis naskah “Shurah ad-Da’irah al-Mahtubah ‘ala Samt al-Qiblah” yang membahas arah kiblat.
- Nashiruddin al-Thusi – mencatat metode Rasdul Kiblat dalam literatur klasik.
4. Metode Penentuan Kiblat dalam Manuskrip Kuno
Manuskrip-manuskrip kuno mencatat berbagai metode penentuan arah kiblat yang telah digunakan sejak zaman klasik hingga sekarang:
- Fenomena alam – Matahari, bulan, bintang, dan angin
- Tongkat Istiwa’ – metode bayangan matahari
- Rubu’ Mujayyab – instrumen astronomi Islam
- Astrolabe dan Quadran – berkembang sejak Dinasti Abbasiyah
- Rasdul Kiblat – momen ketika Matahari persis berada di atas Ka’bah (terjadi dua kali setahun, sekitar 28 Mei dan 16 Juli)
Agama dan Kepercayaan yang Menggunakan Kiblat Saat Ini
1. Agama Islam
Umat Islam adalah pengguna utama konsep kiblat hingga saat ini. Kiblat digunakan dalam berbagai konteks ibadah:
- Arah menghadap saat salat
- Arah berihram dalam ibadah haji dan umrah
- Arah wajah hewan saat disembelih
- Arah jenazah saat dimakamkan
- Arah yang dianjurkan untuk berdoa
- Arah yang dihindari saat buang air dan membuang dahak
Dalam arsitektur masjid, terdapat mihrab (relung pada dinding masjid) yang menunjukkan sisi mengarah ke kiblat.
Praktik pengecekan arah kiblat masih rutin dilakukan, misalnya melalui gerakan verifikasi arah kiblat nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Agama RI, serta pemanfaatan momen Rasdul Kiblat (Istiwa A’zam) untuk mengecek akurasi kiblat secara mandiri.
2. Agama Baha’i
Umat Baha’i juga menggunakan konsep Qiblih (serapan dari kata qiblah), yaitu arah yang menjadi tujuan berdoa. Qiblih bagi umat Baha’i mengarah ke Makam Bahá’u’lláh di Bahji, Israel.
Daftar Referensi
| No | Referensi |
|---|---|
| 1 | Wikipedia Indonesia, “Kiblat” |
| 2 | Eprints Walisongo, Pengertian Arah Kiblat |
| 3 | Wikipedia, “Kiblat: Perbedaan antara revisi” |
| 4 | Repositori UIN Alauddin, Kiblat (Ka’bah) |
| 5 | NU Online Jabar, “Peristiwa Sya’ban: Sejarah Pensyariatan Menghadap Kiblat” |
| 6 | NU Online, “Sejarah Pensyariatan Menghadap Kiblat” |
| 7 | OIF UMSU, “Rasdul Kiblat Dalam Literatur Klasik” |
| 8 | OIF UMSU, “5 Literatur Kiblat Karya Ulama Nusantara” |
| 9 | Eresources NLB Singapore, “Kiblat” |
| 10 | Kemenag RI, “Gerakan Verifikasi Arah Kiblat Nasional” |
| 11 | UIN Antasari, “Rashdul Qiblah” |
| 12 | Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 144, 149, 150 |
| 13 | Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 29 |
| 14 | Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 37 |
| 15 | Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 127 |
Leave a Reply